ririn febrianti
Sabtu, 19 April 2014
ririn febrianti: Culture studies dan teknologi komunikasi
ririn febrianti: Culture studies dan teknologi komunikasi: Culture studies dan teknologi komunikasi Culture studies sendiri dapat diartikan sebagai suatu cara bagaiamana para ahli melihat suatu re...
ririn febrianti: Culture studies dan teknologi komunikasi
ririn febrianti: Culture studies dan teknologi komunikasi: Culture studies dan teknologi komunikasi Culture studies sendiri dapat diartikan sebagai suatu cara bagaiamana para ahli melihat suatu re...
Culture studies dan teknologi komunikasi
Culture
studies dan teknologi komunikasi
Culture
studies sendiri dapat diartikan sebagai suatu cara bagaiamana para ahli melihat
suatu realitas. Bagaimana para ahli melihat apa yang ada dan terjadi pada
masyarakat. Ciri-ciri dari culture studies atau yang menjadi ciri khas dari
kultur studies adalah culture studies selalu melihat sesuatu tidak semata-mata
pada sesutu itu sendiri dimana pada sesuatu terdapat sebuah makna yang memiliki
keterkaitan terhadap sesuatu yang lain.kita dapat memahami hal tersebut dengan
melihat bagaimana pergeseran budaya yang terjadi di Indonesia sendiri, contoh
yang mudah adalah bagaimana perubahan cara berpakaian masyarakat Indonesia yang
dulu menggunaka kebaya dan jarit bagi perempuannya saat ini ustru hal itu
sangat langka untuk dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, saat ini
masyarakat justru lebih nyaman dengan pakaian-pakaian yang berasal dari luar seperti
kemeja dan celana jeans yang bila kita telisik lebih dalam dari mana asal jeans
dan makna apa yang ada didalamnya kita akan mengetahui bahwa dalam culture
studies ini kita tidak hanya melihat sesuatu itu semata-mata sebagai sesuatu
itu sendiri tetapi ada makna lain yang saling berkaitan. Celana jeans berasal
dari amerika dimana jeans tersebuat biasa digunakan dan menjadi ciri dari
masyarakat kalangan bawah yakni kaum buruh dan para pekera kasar sehingga jeans
dianggap sebagai suatu bentuk perlawanan dari kaum buruh terhadap masyarakat
kelas atas. Dari hal tersebut kita dapat melihat bagaimana sebuah celana bukan
hanya menjadi atau hanya bermakna sebagai suatu pakaian yang digunakan sebagi
pakaian saa tetapi ada makna lain dibalik jeans tersebut dan bagaimana hal
tersebut dapat meberikan pengaruh tidak hanya bagi masayarakat amerika tapi
bagaimana celana jeans justru kemudian digunakan oleh masyarakat di belahan
dunia lain. Dalam culture studies erat kaiannya tentang bagaimana kita melihat
sesuatu hal (describe) tetapi kita tidak hanya melihat sesuatu itu saja tapi
ada kaitan lain antara sesuatu itu dengan sesuatu yang lain (connective). Jika kita
kaitkan itu pada teknologi komunikasi maka pertanyaan yang timbul adalah bukan
lagi apa tetapi bagaimana atau mengapa teknologi dapat mempengaruhi masyarakat?
Seperti
kita ketahui pula bahwa yang menciptakan teknologi adalah masyarakat sendiri
namun pada suatu masa bahkan mungkin saat ini teknologilah yang mulai
mengontrol kita akibat adanya pergeseran identitas dimana kita terpengaruhi dan
ketergantungan dengan teknologi itu sendiri. Akibat adanya penggunaan teknologi
menciptakan pengalaman pada masyarakat yang dapat kita gali menggunakan cara
culture studies dimana kita melihat adanya klausalitas didalamnya. Ciri khas
lain dari culture studies itu sendiri adalah bagaimana masyarakat mengalami
teknologi sebagai suatu praktek budaya sehingga merupakan hal yang salah bila
ada yang mengatakan bahwa antara teknologi dan budaya merupakan suatu hal yang
terpisah. Teknologi dan budaya memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan
dimana adanya teknologi menguatkan budaya itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut
kita dapat memberikan sebuah contoh dengan hadirnyaatau terciptanya komputer
yang tidak semata sebuah software dan hardware tetapi terdapat makna lain. Dengan
komputer seseorang memiliki kualitas yang berbeda. Pengalaman dengan komputer
merubah pengalaman seseorang, membuat komputer berkuasa atas user padahal kekuatan
bukan pada komputer tetapi pada user itu sendiri.
Topik
yang menarik dari culture studies sendiri dalam mempelajari teknologi
komunikasi adalah politik (democrasy), identitas, space (ruang), dan gender. Pada
hal ini kaitan gender bukan hanya terkait pada jenis kelamin tetapi dengan
adanya teknologi seseorang dapat berganti-ganti identitas berdasarkan konten
analisis teknologi dapat menimbulkan adanya ketimpangan gender. Contohnya saja,
pada game online sering kali menempatkan perempuan sebagai sumber ekploitasi.
Berkaitan
dengan identitas sendiri teknologi tidak hanya memberi fasilitas tetapi juga
memberi arak sehingga membuat ketimpangan antara msayarakat yang sangat
mengetahui teknologi dengan masyarakat yang sebetas mengenal teknologi sekedarnya
saja. Dengan adanya kajian culture studies ini bertujuan untuk mengembalikan
teknologi untuk menguatkan budaya yang sudah ada sehingga tidak menyebabkan suatu
pergeseran identitas ataupun budaya.
cultural
studies adalah suatu kajian terhadap pelbagai pola perilaku manusia baik secara
ideologi, politik, ekonomi, sosial maupun budaya dengan segala aspeknya yang
kompleks. Dengan kompleksitas persoalan yang dihadapinya, cultural studies
bergerak dari pemahaman terhadap bidang-bidang pertanyaan interdisipliner atau
posdisipliner yang berupaya mengeksplorasi produksi dan inkulkasi (penanaman)
budaya atau makna dalam tiap perilaku manusia. Lantaran itulah, secara
definitif, cultural studies kemudian menjadi tidak memiliki acuan yang tegas
dan baku; cultural studies hanya permainan-bahasa (language-game). Sebagai contoh
lain adalah bagaimana kita melihat fenomena teknologi seperti nedia sosial
dapat begitu melejit dikalangan masyarakat Indonesia hal itu bukan semata-mata
karena adanya kemajuan teknologi yang ada tetapi juga hal itu memiliki kaitan
terhapadap karakteristik masyarakat Indonesia itu sendiri dimana masyarakatnya
yang sangat gemar sekali bersosialiasai satu sama lain dan memiliki rasa ingin
tahu yang sangat besar dengan urusan orang lain sehingga dengan adanya media
sosial masyarakat Indonesia merasa seperti difasilitasi oleh teknologi itu sendiri
sehingga kemudian banyak sekali dan hampir semua mayarakat Indonesia memiliki
akun media sosial salah satunya adalah media sosial facebook. Masyarakat
Indonesia menjadi salah satu pengguna facebook terbanyak di dunia. Dengan menggunakan
kajian culture studies sendiri kita juga melihat bagaimana pergeseran fungsi
juga terjadi pada media sosial yang seharusnya sebagai media untuk
berkomunikasi dengan orang yang jauh ataupun sudah lama tak bertemu tetapi saat
ini justru menjadi tempat untuk berjualan barabg dan jasa. Hal-hal tersebut
tentu dapat kita pahami dan pelajari dengan menggunakan pendekatan culture
studies sehingga kita dapat memahami sesuatu itu tidak hanya berdasarkan hal
itu sendiri tapi ada hal lain yang memiliki keterkaitan yang akan semakin
menambah pemahaman kita terhadap suatu hal tersebut.
Sabtu, 12 April 2014
NEW MEDIA AND SMALL GROUP
NEW
MEDIA AND SMALL GROUP
Teknologi
adalah desain untuk tindakan intrumental yang mengurangi ketidakpastian dalam
hubungan sebab akibat yang terlibat dalam mencapai hasil yang diinginkan. Teknologi
biasanya memiliki dua aspek yaitu aspek perangkat keras (terdiri dari materi
atau benda-benda fisik) dan aspek perangkat lunak (terdiri dari basis informasi
untuk perangkat keras). Kedua aspek tersebut penting untuk penggunaan praktis
komputer, tetapi karena perangkat keras lebih terlihat oleh pengamat kasual,
maka kita akan berpikir teknologi utama adalah perangkat keras.
Teknologi komunikasi dalam masyarakat modern seperti
Amerika Serikat. Teknologi komunikasi adalah peralatan perangkat keras,
organisasi, struktur dan nilai-nilai sosial yang digunakan individu untuk
mengumpulkan, memproses dan bertukar informasi dengan individu lainnya.
Selanjutnya, yang lebih penting adalah sifat dan bagaimana fungsi media baru
bagi sebagian besar orang untuk bertukar informasi. Pada kenyataannya teknologi
komunikasi baru tidak hanya ditandai dengan adanya teknologi tunggal baru
seperti mikrokomputer dan satelit, tetapi menggabungkan elemen-elemen dari
jenis komunikasi baru seperti menggunakan satelit untuk memberikan berbagai wid
dari programming untuk sistem televisi kabel. Contoh teknologi komunikasi baru
yaitu telekonferensi jaringan, elektronik sistem, papan buletin computer, dan
televise kabel interaktif.
Kemajuan teknologi komunikasi informasi ini harus diakui
memberikan paradigma baru yang mengubah keseluruhan cara pandang kita tentang
berbagai masalah dan persoalan yang ada di muka bumi ini. Perubahan paradigma
ini juga mempengaruhi media massa, khususnya media konvensional. Harus diakui
kalau media baru dalam bentuk elektronik yang lalu lalang di jaringan internet
adalah media informasi masa depan, media yang memiliki footprint yang luar
biasa menjangkau berbagai lapisan pembaca dari berbagai kelas, dan akan
melampaui jumlah pembaca media konvensional. Ke depannya, kita hanya bisa
memprediksi apa yang akan terjadi terkait evolusi media baru. Berbagi
pengetahuan dan pemahaman melalui diskusi, kegiatan konferensi, turut
berkontribusi dalam memberikan informasi masa depan media baru.
Media baru (new media) merupakan sebuah terminologi untuk
menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang
terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Contoh dari media yang
sangat mempresentasikan media baru adalah internet. Program televisi, film,
majalah, buku, surat kabar dan jenis media cetak lain tidak termasuk media
baru.
Sifat komunikasi kelompok kecil. Komunikasi kelompok kecil
terjadi ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya dibawah pengarahan
seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama dan mempengaruhi
satu sama lain. Inti dari definisi ini adalah bahwa masyarakat berinteraksi,
mereka saling bergantung, dan saling mempengaruhi.
Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka. Komunikasi
kelompok kecil yang efektif menghendaki Anda untuk berkomunikasi dengan orang
lain melalui tatap muka. Interaksi yang berarti dapat berlangsung jika
komunikasi melibatkan hal berbicara dan mendengar dalam lingkungan yang umum.
Melalui pengenalan teknologi baru seperti komputer, mesin fax, telekonferensi,
dan bentuk komunikasi cepat lainnya, masyarakat semakin terbiasa berkomunikasi
dan menyokong hubungan tanpa kehadiran fisik orang lain. Bagaimanpun,
komunikasi kelompok yang terbaik terjadi bila orang-orang dapat segera
menanggapi komunikasi verbal dan nonverbal orang lain secara pribadi.
Teknologi baru itu sendiri digunakan oleh kelompok kecil
untuk mempermudah atau memiliki fungsi di dalam sekelompok orang dalam
melakukan pekerjaan. Sehingga dengan adanya teknologi dan media baru maka
menjadi kelompok itu sendiri terbagi kedalam dua jenis kelompok yaitu kelompok
tradisional dan kelompok teknologi. Dari kedua kelompok tersebut tentu memiliki
perbedaan yaitu pada kelompok tradisional itu sendiri terikat oleh waktu dan
tempat sementara kelompok teknologi tidak terikat dan bahkan dapat terbentuk
dengan jumlah anggota dalam jumlah yang banyak hal tersebut yang kemudian
membuat kedua kelompok tersebut memiliki kendala masing-masing. Kelompok tradisional
terkendala oleh ruang dan waktu sehingga komunikasi sulit untuk terjadi apalagi
bila dalam jumlah anggota yang banyak dan dalam penyampaian pesan pun kurang
efektif karena dalam kelompok tradisional lebih menekankan kepada interaksi
face to face sehingga dalam berkomunikasi setiap anggota harus meluang waktu
yang banyak. Kekurangan yang ada pada kelompok tradisional tertentu tiak
terjadi pada kelompok teknologi,penyampaian pesan sangat efektif dengan
banyaknya media yang tersedia sehingga setiap anggota tidak harus melluangkan
waktu yang banyak, tetapi tanpa disadari pada saat kita mengguankan teknologi
sehingga kita kemudian tergantung pada teknologi tersebut kemudian lama
kelamaan teknologi tersebut yang akan balik mengatur kita. Sehingga suatu
kelompok harus benar-benar dapat memilih media yang digunakannya.
Secara
tradisional kelompok kecil telah didefinisikan oleh peneliti, sebgai kolektif
mulai dari minimal 2orang sampai , maksimum 15 anggota. Anggota kelompok tidak
perlu lagi secara resmi untuk hadir (di
waktu atau tempat) untuk berkolaborasi, berbagi informasi atau bersosialisasi.
Sebaliknya teknologi baru memfasilitasi penciptaan, pemeliharaan dan pembubaran
kelompok antara individu-individu yang menggunakan teknologi yang berbeda
(seperti telepon, ponsel, laptop) untuk berinteraksi lebih dari satu atau menggunakan berbagai
saluran yang berupa (audio.video,
graphics teks) yang ditawarkan oleh beberapa forum (kelompok berita di
internet, online chat sesi via Instant Messenger, dan intranet perusahaan '). Ketika
kita menyaksikan munculnya media baru
tidak hanya sebagai saluran tetapi juga sebagai agen dalam kelompok mengemudi
atau mengatur proses keputusan kelompok dengan dinamis penataan interaksi
kelompok (Kontraktor, 2002; DeSannis dan Gallupe, 1987).
Perkembangan ini telah memicu pergeseran dalam
konseptualisasi kelompok dari gagasan tradisional 'waktu yang sama, tempat yang
sama' menjadi 'setiap saat, di mana saja dan, sebagian orang akan berpendapat
dengan ragu,' kapan saja, di mana saja: Dalam pandangan tradisional untuk menghadapi kelompok, ukuran
kelompok mungkin akan relatif kecil dan keanggotaannya adalah dengan definisi tertutup. Hal ini juga berlaku untuk beberapa
tim kerja didistribusikan secara geografis yang berkolaborasi menggunakan teknologi
komunikasi seperti video dan konferensi komputer. Namun, itu tidak terjadi di
banyak newsgroup berbasis Internet, di mana ada ratusan peserta [Alexander et
al., 2002). Peserta ini dapat menyatu sebagai sebuah kelompok karena biasa
'praktek', seperti pengembangan operasi komputer baru. Sebelum pengembangan
World Wide Web dan Internet, penelitian pada kelompok dengan dukungan teknologi
didorong oleh tiga tujuan dasar: untuk memeriksa bagaimana media baru bisa
mengizinkan kelompok untuk mengatasi kendala ruang dan waktu, untuk
mengevaluasi dampak teknologi pada jangkauan dan kecepatan anggota mengakses
informasi, dan untuk mengevaluasi dampak dari teknologi dalam kinerja tugas
kelompok (McGrath dan Hollmgshead1994).
Jadi setip
kelompok memiliki pola ddan media interaksinya masing-masing sehingga kelompok
itu dapat berjalan untuk mencapai tujuan dari kelompok tersebut dengan
pemanfaatan media baru dan teknologi.
Kamis, 20 Maret 2014
komunitas dan media baru
Menciptakan Komunitas
melalui Media:
Investivigasi/Penyelidikan
Sejarah, Teori dan Ilmu Pengetahuan
Bab
ini membahas tentang hubungan antara media dan komunitas baru.
Pertama,
adalah mengenai 3 periode sejarah perkembangan komunitas dan media. Gelombang Pertama
Pada Komunitas Dan Studi Media
• Park (1922) meneliti peranan pada
media komunitas yang berhubungan dengan
pembentukan identitas
diantara kelompok imigran. Disini Park mengamati minat baca surat kabar
di antara penduduk perkotaan dan pedesaan. Di kota para pembaca
memiliki lebih banyak kepentingan karena itu tak hanya sekedar
pemberitaan di daerah tempat tinggalnya saja yang dibaca namun berita dari luar
daerah juga dibaca, sedangkan para pembaca
pedesaan lebih suka pada berita lokal.
• Merton (1949) mengidentifikasi dua
group penduduk; yaitu lokalitas dan kosmopolitan. Lokalitas berorientasi pada komunitas lokal, terlibat secara lokal berdasarkan pada aktifitas sosial dan
utamanya pada surat kabar lokal sebagai sebuah sumber untuk berita lokal.
Kosmopolitan, hal yang berbeda, ia memiliki sebuah orientasi lebih luas dan tingkat aktifitas sosial, dan mengkonsumsi media dari luar
lokalitas.
• Janowitz (1952) menitik beratkan
pada peranan pada surat kabar dalam mengintegrasikan individu-individu ke dalam
sebuah komunitas.
• Stanm mengembangkan sebuah model dimana ikatan komunitas dapat dilihat
sebagai pendahulu atau konsekwensi pada
penggunaan media komunitas. Adanya surat kabar berperan serta untuk membentuk suatu ikatan komunitas,
dan pada
waktu lainnya hal yang berbeda terjadi pada ikatan komunitaslah yang
berperan serta pada penggunaan surat
kabar.
Gelombang
kedua Pada komunitas dan studi media
Sistem penyebaran televisi
kabel pada akhir tahun 1960an dan awal taun 1970an, sebuah
kepercayaan baru pada ketertarikan yang dikembangkan secara
geografis dijelaskan untuk menggunakan
teknologi komunikasi ini untuk
inisiatif dan aksi komunitas. Media dalam konteks ini adalah membuat
‘media komunitas’ dan istilah ini mengacu pada sebuah tingkat
berbeda pada bentuk-bentuk mediasi pada
komunikasi, contoh media yang dijadikan pada media komunitas adalah radio
dan televisi. ).
Gelombang
ke tiga
Sebuah group yang
terdiri dari para praktisioner
dan aktifis mahasiswa. Sejak pertemuaan
pertama tahun 2000, group telah berkembang dengan cepat dalam ukuran dan
cakupan, telah melakukan pertemuan tahuhan baik di Amerika Utara dan Selatan.
Website OurMedia menjelaskan sebuah sumber yang berharga dan luas untuk
beasiswa sekarang ini (lihat http//www.ourmedianet.org). . Sejak pertemuaan pertama tahun 2000, group telah
Berkembang dengan cepat dalam ukuran dan cakupan, telah melakukan pertemuan
tahuhan baik di Amerika Utara dan Selatan. Website OurMedia menjelaskan sebuah sumber
yang berharga dan luas untuk beasiswa sekarang ini (lihat
http//www.ourmedianet.org).
Perkembangan
internet menyebabkan lahirnya era cyber society atau komunitas virtual.
.Bagian
ke dua mengeksplorasi transformasi atau perubahan pada konsep komunitas dari
studi sosiologikal yang berorientasi lokalitas.
Ke
tiga memberikan ilustrasi pada tiga jenis studi
yang berhubungan dengan komunitas
dan media elektronik
skala kecil, jaringan-jaringan informasi komunitas, dan diskusi
publik dan perdebatan melalui jaringan elektronik
Keempat,
mengeksplorasi lebih jauh antara komunitas dan
media secara langsung.
Dampak Media Baru
Aspek
negatif dalam teknologi yang sebagai
alat potensial yang menakutkan untuk
propaganda politik; televisi dan film, bagaimanapun, diduga dapat untuk merusak masyarakat, merubah
pikiran anak muda dan menghancurkan warisa budaya. Penelitian / karya-karya
ilmiah menjadi diragukan validitasnya karena adanya perkembangan teknologi internet,
hal ini disebabkan ketidakjelasan atau tidak dicantumkannya sumber informasi /
referensi.
Aspek
positif . Pendidikan akan meningkatkan warga
menjadi lebih fokus dan aktif;
perdagangan, pada ekonomi yang baru akan terjadi, bahwa hilangnya nilai-nilai komunitas tradisional dapat diraih kembali melalaui komunikasi melalui Internet.
Media
baru yang muncul saat ini belum akan berkembang menjadi media di masa depan.
(Fauconnier, 1973; Hamelink, 1980)
Karakteristik Media Baru
Karakteristik
pada media baru dijelaskan oleh McQuail
(1994: 20-6) digunakan sebagai
sebuah pengambaran pada
istilah. Media baru, ia menjelaskan, secara umum melibatkan
desentralisasi pada channel untuk
penyebaran pesan; sebuah peningkatan
dalam ketersediaan kapasitas untuk
pemindahan pesan melalui satelit,
kabel dan jaringan komputer; sebuah peningkatan dalam opsi yang ada untuk anggota audiense untuk menjadi terlihat dalam proses
komunikasi, sering memerlukan sebuah bentuk interaktif komunikasi; dan sebuah peningkatan dalam tingkat fleksibilitas untuk
penentuan pesan. Negroponte (1995) mempertimbangkan aspek terakhir ini
yang merupakan tampilan
paling fundamemntal atau mendasar, dan digitalisasi hal yang penting untuknya bahwa kandungan
pada satu media dapat saling betukar dengan yang
lainnya.
Media
baru, seperti yang dianggap dalam bab ini terlihat
sebagai pengembangan dalam komuikasi pada beberapa konteks. Untuk alasan ini, disana terdapat nilai dalam menjelaskan hubungan
pada media baru untuk ruang dan
waktu mereka, dengan memperhatikan
komuitas.
Menurut
Feldman, New Media memiliki lima karakteristik, yaitu :
Pertama,
media baru mudah dimanipulasi. Hal ini sering kali mendapat
tanggapan negatif dan menjadi perdebatan, karena media baru memungkinkan setiap
orang untuk memanipulasi dan merubah berbagai data dan informasi dengan bebas.
Kedua,
media baru bersifat networkable. Artinya,
konten-konten yang terdapat dalam media baru dapat dengan mudah dishare dan
dipertukarkan antar pengguna lewat jaringan internet yang tersedia.
Karakteristik ini dapat kita sebut sebagai kelebihan, karena media baru membuat
setiap orang dapat terkoneksi dengan cepat dan memberi solusi terhadap kendala
jarak dan waktu antar pengguna.
Ketiga,
media baru bersifat compressible. Konten-konten yang ada
dalam media baru dapat diperkecil ukurannya sehingga kapasitasnya dapat
dikurangi. Hal ini memberi kemudahan untuk menyimpan konten-konten tersebut dan
men-sharenya kepada orang lain.
Keempat,
media baru sifatnya padat. Dimana kita hanya membutuhkan space
yang kecil untuk menyimpan berbagai konten yang ada dalam media baru.
Sebagai contoh, kita hanya memerlukan satu PC yang terkoneksi dengan jaringan
internet untuk dapat menyimpan berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia
dalam PC tersebut.
Kelima,
media baru bersifat imparsial. Konten-konten yang ada dalam media
baru tidak berpihak pada siapapun dan tidak dikuasai oleh segelintir orang
saja. Karena itulah media baru seringkali disebut sebagai media yang sangat
demokratis, karena kapitalisasi media tidak berlaku lagi. Setiap orang dapat
menjadi produsen dan konsumen secara bersamaan dan setiap pengguna dapat
berlaku aktif disana.
TAHAP
PERKEMBANGAN MENGENAI KAJIAN MEDIA DAN COMMUNITY
MEDIA
Menciptakan
Kumunitas dengan Media:
Saat ini internet
mungkin dimiliki oleh masyarakat secara umum dan komunitas pada
khususnya. Itu terlihat seolah-olah
tiap generasi telah diwakili
oleh orang yang terpelajar yang berperan serta pada media dan juga
berpengaruh pada manusia. Selama jaman keemasan pada
radio sebagai contoh, itu membawa
budaya ke dalam setiap ruang kehidupan;
selanjutnya, televisi yang kemudian mengubah pendidikan. Pada ke dua media
ini adalah sebagai alat potensial untuk propaganda
politik.
MEDIA BARU
Kebanyakan yang
baru berhubungan dengan perubahan dalam cara
individu untuk dapat berhubungan dengan media dan untuk menentukan tempat dan
fungsi media ini dalam kehidupan mereka tiap harinya. Media baru
adalah, pada sebuah tingkat yang lebih besar, secara sosial membentuk fenomena dan sering berselisih secara substansial dari perhatian orijinal
pembuatnya.
-
Karakteristik Media
Baru oleh McQuail
Media baru, ia
menjelaskan, secara umum melibatkan desentralisasi pada channel untuk penyebaran pesan; sebuah peningkatan dalam ketersediaan kapasitas untuk pemindahan pesan melalui satelit, kabel dan jaringan komputer; sebuah peningkatan dalam opsi yang ada untuk anggota audiense untuk menjadi terlihat dalam proses
komunikasi, sering memerlukan sebuah bentuk interaktif komunikasi; dan sebuah peningkatan dalam tingkat fleksibilitas untuk
penentuan pesan.
Perkembangan biasanya
berhubungan dengan media baru
yang banyak dan meliputi
teknologi seperti DVD dan CD-ROM; televisi kabel dan jaringan komputer; perkembangan berbagai komputer media
komunikasi (CMC) seperti e-mail/surat
elektronik, group baru dan
daftar diskusi, dan layanan chatting; layanan telepon seperti SMS
dan MMS; dan Internet yang
didsarkan pada layanan baru yang disediakan oleh surat kabat
tradisional dan broadcaster.
Perkembangan
bangsa Mesir pada kertas, preferensi
yang diberikan untuk mensketsa hubungan
khusus antara komunitas dan
media pada awal tahun 1900an ketika studi komunitas berkembang
sebagai sebuah usaha akademik
yang penting. Gelombang ke dua mengenai studi yang berhubungan dengan komunitas dan media
dapat dilacak pada akhir tahun 1960an dan 1970an ketika media komunitas
elektronik skala kecil muncul. Ke tiga dan periode terakir untuk digambarkan
adalah era Internet.
Gelombang
Pertama Pada Komunitas Dan Studi Media
Merton menjelaskan, dengan kata lain, bahwa
penggunaan media dan partisipasi komunitas adalah refleksi dari sifat individu.
Janowitz (1952) mengambil sebuah
pendekatan berbeda pada topik komunitas
dan media, dan menekankan peranan pada struktur komunitas berhubungan
dengan penggunaan surat kabar lokal.
Seperti Park, Janowitz menitik beratkan pada
peranan pada surat kabar dalam
mengintegrasikan individu-individu ke dalam sebuah komunitas. Ia
beranggapan surat kabar lokal dapat berperan serta untuk konsensus pada
sebuah komunitas lokal, dan ia meneliti peranan keluarga, soaial dan partisipasi
komunitas pada bacaan surat kabar komunitas dan keterlibatan komunitas berhubungan dengan perhatian yang lebih
besar pada surat kabar lokal.
Gelombang
ke dua: Media Komunitas Elektronik
Media dalam
konteks ini adalah membuat ‘media komunitas’ dan
istilah ini mengacu pada sebuah tingkat berbeda pada bentuk-bentuk
mediasi pada komunikasi; media elektronik seperti surat kabar dan majalah, dan selanjutnya
jaringan elektronik membuat menyatukan karakteristik baik pada
media cetak tradisional dan
elektronik. Hal yang mana televisi komunitas adalah dijelaskan merupakan inisiatif skala
kecil yang dibuat oleh orang lokal
sebagai pembeda dari siaran profesional (Lewis, 1976: 61). Para anggota
pada komunitas, sering beraliansi
dengan para staf stasiun profesional dimaksudkan untuk bertanggung jawab
untuk ide dan produksi yang dihasilkan program.
Para anggota komunitas adalah secara
umum dilibatkan dalam semua hal pada
aktifitas stasiun dan melatih mengkontrol
hari demihari dan kebijakan dalam waktu lama.
Media baru
seperti radio komunitas dan telvisi
adalah memfokuskan pada studi Eropa Barat (seperti pada Halloran, 1977;
Jankowski, 1988) dan Amerika Utara
(seperti pada Fuller, 1994; Widlok, 1992). Beberapa tinjauan sketsa
bagaimana group menggunakan pada
media elektronik skala kecil untuk
tujuan politik dan budaya (seperti pada Downing, 1984, 2000; Girard,
1992; Jallov, 1997). Studi Orang Eropa mengenai
‘suara orang-orang ini’ dilakukan
selama tahun 1970an dan 1980an, dikumpulkan dalam sebuah anthology
dokumentasi pengembangannya dan
dampaknya (Jankoski et al., 1992
Dengan memfokuskan pada media
komunitas dalam lokalitas
didapatkan tinjauan ulang ketertarikan
pada inisiasi pada OURMedia, sebuah group yang
terdiri dari para praktisioner
dan aktifis mahasiswa. Sejak pertemuaan
pertama tahun 2000, group telah berkembang dengan cepat dalam ukuran dan
cakupan, telah melakukan pertemuan tahuhan baik di Amerika Utara dan Selatan.
Website OurMedia menjelaskan sebuah sumber yang berharga dan luas untuk
beasiswa sekarang ini (lihat http//www.ourmedianet.org). Banyak penelitian
oleh anggota pada group ini telah diinspirasi oleh diskusi pada “citizen
media’, yang diusulkan oleh Rodriguez (2001) dan ‘alternative media’, bekerkja
sama dengan Atton (1999).
Gelombang Ke Tiga: Era Internet
secara serius memfokuskan pada
Internet dapat dilacak untuk publikasi
pada sebuah issu tema gabungan yang dipersiapkan oleh Journal of Communication dan
Journal of Computer-Mediated Communication (JCMC) pada tahun 1996. Indikasi yang lain pada
gelombang ke tiga yang signifikan dan penting ini adalah pembentukan mengenai
Asosiasi pada Para Peneliti Internet dan melakukan konferensi
internasional pertamanya pada Semptember 2000 (lihat Jones, 2004).
Kesimpulannya, banyak yang masih
terus mengalami perubahan, dan
pergerakan perubahan visi dan
refleksi. Itu terlihat adil untuk
mengatakan bahwa akademik memfokuskan
untuk komunitas, khususnya pada linkungan Internet. Apakah beberapa
robustness/ketahanan akan melanjutkan yang mungkin akan bergantung sangat besar
pada tingkat perbaikan konseptual yang dicapai selama tahun-tahun berikutnya. Seberapa jauh perbaikan tersebut berjalan dijelaskan
dalam bagian selanjutnya.
COMMUNITY
Perubahan Formulasi Pada Komunnitas
Komunitas sebagai sebuah konsep popular
telah membuktikan dengan kuat
pada serangan, bagaimanapun, dan itu telah mendapatkan sebuah kehidupan
baru dalam wacana akademik sejak diskusi
pada berbagai bentuk pada komunitas virtual muncul
dalam syberspace.
Teori sekarang ini dan reorientasi metodologikal dengan menekankan
ikatan sosial adalah dipertimbangkan selanjutnya. Akhirnya, diskusi dan
usaha-usaha untuk menjelaskan komunitas
dengan konteks pada Internet adalah berhubungan dengan berapa lama, dan formulasi baru pada komunitas pada lingkungan
ini dijelaskan.
Konseptualisasi sosiologikal awal pada komunitas
Diskusi mengenai komunitas pada
disiplin sosiologi sering dimulai dengan kontribusi pada Tonnies (1887/1957),
khusunya formulasinya mengenai Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft, biasanya diartikan sebagai
‘community’/komunitas, mengacu pada hubungan yang ‘intimate/rekat, memperkuat dan berdasarkan
pada sebuah pemahaman jelas pada
dimana tiap orang berdiri dalam masyarakat’ (Bell dan Newby, 1972: 24). Ditemukan
dalam masyarakat sebelum
masa industri, hubungan ini adalah dirasakan secara budaya homogen dan dengan kuat dipengaruhi
institusi-institusi seperti gereja dan keluarga. Dasar pada Gemeinschaft melibatkan
hal sentimental pada konvensi
dan lebih banyak pada sebuah
tradisi yang diturunkan dari generasi ke
generasi dari keluarga ke keluarga (Newby, 1980: 15).
Istilah ‘Tonnies Gesellschaft secara
umum diartikan sebagai ‘masyarakat’ atau
‘asosiasi’ dan mengacu pada ‘skala
besar’, bukan perseorangan, kalkulatif,
dan hubungan kotraktual’ (Newby,
1980: 15) diyakini untuk meningkat selama periode industrialisasi pada abad ke sembilan
belas. Aksi yang diambil dalam keuntungan potensial merekea untuk individual.
Hubungan-hubungan adalah kontraktual dan
secara fungsional spesifik.
Karena pada orientasi individual,
Gesellschaft adalah dibentuk oleh
sebuah kadaan yang berkelanjutan.
Ikatan Sosial Sebagai Indikator Komunitas .
Analisis jaringan sosial telah menjadi penyebab kolektif
dalam penelitian Wellman dan
koleganya (Garton et al, 1999; Wellman, 1997, 1999; Wellman dan Berkowitz,
1988, 1997), dan kebanyakan sekarang ini dalam penelitian mereka pada
kegunaan jaringan
elektronik pada area
tempat tinggal (seperti pada Hampton
dan Wellman, 2000; Wellman dan
Hampton, 1999). Dalam sebuah diskusi pada apa yang ia sebut dengan ‘community
question’/pertanyaan komunitas Wellman
(1999) menjelaskan tampilan dan nilai pada analisis jaringan sosial. Pendekatan jaringan, ia menyatakan,
menghindari individual-tingkat
pendekatan perspektif, memfokuskan pada hubungan antara nodes dan unit pada sebuah
jaringan. Pendekatan ini memberikan
sebuah kesempatan untuk mempertimbangkan tampilan sebagai density/ketebalan dan ‘tightness’/keeratan pada hubungan,
tingkat pada heterogenity diantara unit
pada sebuah jaringan, dan dampak yang mana
hubungan dan posisi pada sebuah
jaringan mungkin ada pada individu atau aksi kolektif.
Komunitas Virtual
Memberikan sebuah pandangn personal tentang
seperti apa itu kehidupan dalam dunia cyberspace. Dengan
mengambil
pengalaman-pengalaman personal
dalam komunitas virtual pertama
Serangkaian kontribusi teori
mengenai komunitas dalam volume Jones telah dipersiapkan oleh Fernback (1997, 1999; lihat juga Fernback
dan Thompson, 1995a, 1995b). Fernback menjelasksan kontribusi dari sosiolog
sebelumnya Tonnies dan Simmel, tetapi
ia juga meninjau kemebali kontribusi dari Dewey dan lebih banyak literatur sekarang dari ‘new communitarian” Etzoni (1993) dan Bellah
et al. (1985). Tidak seperti beberapa deskripsi sebelumnya mengenai komunitas, ia menekanakan dinamika
pada kosnep: ‘ sebagai masyarakat
yang menyusun pendapat mengenai komunitas
disusun secara bersamaan’
(Fernback, 1997). Sebuah sifat sekarang mengenai konsep diketahui sebagai komunitas virtual
yang mana ia menjelaskan sebagai ‘hubungan sosial yang terjadi dalam
cyberspace melalui kontak yang diulang pada sebuah
batasan dan tempat khusus
(seperti pada sebuah konferensi atau
chatting line) yangmana secara simbol yang digambarkan dengan topik
kepentingan’ (Fernback dan
Thompson, 1995b).
Hal yang menjadi permasalahan dan
perhatian dalam tampilan komunitas
virutal, menurut Fernback dan Thompson
(1995b), adalah ketidakstabilan para individual
yang dimiliki dalam komunitas. Para individu dapat mennjadi aktif dan menonjol dengan cepat, dan ketika itu pula dengan cepat menghilang
bersama: ‘meninggalkan sebuah komunitas virtual mungkin menjadi mudah
seperti mengubah channel pada sebuah
televisi’. Beberapa ketidak stabilan mungkin memiliki konsekwensi, mereka menjelaskan,
untuk stabilitas pada komunitas
virtual untuk sebuah tingkat yang lebih
besar lagi dibandingkan dalam kasus dalam ‘kehidupan nyata’ atau komunitas offline. Untuk alasan ini
mereka pesimistik mengenai potentialitas pada komunitas online
untuk berperan serta pada gambaran yang
terbentuk pada lingkaran publik’.
Perbedaan komunitas virtual dengan komunitas organik
Van
Dijk (1998) mengambil sebuah pendekatan berbeda pada topik komunitas virtual
dari Jones dan Fernback. Ia menyusun,
pertama, tugas penentuan apakah
kontruksi sosial dapat menggantikan untuk kerugian
sosial pada hak istimewa komunitas dalam masyarakat. Ia kemudian menyediakan
sebuah definisi pada komunitas
virtual sama dengan formulasi yang lainnya, bahwa mereka adalah
komunitas yang tidak terikat pada sebuah
tempat khusus atau waktu, tetapi masih
memberikan ketertarikan dalam sosial, budaya dan
realitas mental dari ketertarikan umum sampai khusus atau
aktifitas’ (1998:40). Pada dasar pada sebuah tinjauan ulang pada beberapa literatur yang tersedia pada komunitas, van Dijk
memurnikan empat karakteristik yang ia katakan adalah sama untuk semua komunitas, memiliki
anggota, merupakan sebuah organisasi
sosial, bahasa dan pola-pola interaksi, dan sebuah budaya dan
identitas umum. Karakteristik ini
kemudian digunakan untuk
membandingkan komunitas virtual dengan
kehidupan nyata atau apa yang ia lebih
sukai disebut dengan komunitas ‘organic’. Latihan ini memunculkan sebuah typology jenis ideal dimana
komunitas virtual digambarkan
secara relatif sebagai hubungan yang tidak tepat, yang mana tidak memperhatikan
dengan pertimbangan pada waktu dan
ruang, yang mana berisi sebuah bahasa
yang dikembangkan, dan pluralistik dan heteregenous dalam
komposisi (lihat Tabel 2.1). Seperti kasus dengan usaha
untuk membuat jenis ideal, profil komunitas virtual ini gagal secara
tepat menggambarkan kasus. Banyak komunitas virtual dapat dibentuk dengan ikatan kuat diantara para anggota mereka,
didasarkan pada waktu dan ruang, dan merefleksikan sebuah keanggotaan yang
homogenous/homogen.
Tabel
2.1 Jennis Ideal
komunnitas organik dan virtual
|
Karakteristik
|
Organik
|
Virtual
|
|
Komposisi
dan aktifitas
Organisasi
sosial
Bahasa
daninteraksi
Budaya
dan identitas
|
Group
kuat (usia)
Beberapa
aktifitas
Mengikat
tempat dan waktu
Verbal
dan non verbal
Total
tunggal
Homogen
|
Afiliasi
tidak cocok
Aktifitas
khusus
Tidak
mengikat tempat dan waktu
Verbal dan banyak bahasa
Partial
plural
Heterogen
|
Sumber: Van
Dijk, 1998: 45
Dengan tipologi ini, van Dijk
merumuskan pertanyaan penting pada studi ini: untuk perluasan apa komunitas virtual dapat menggantikan komunitas organik dan
memberikan kekuatan untuk
proses sosial sekaarang ini pada fragmentasi dan individualisasi?’ (1998: 48). Tinnjauan
ulang kesimpulan didasarkan pada awal
penelitian CMC, ia menjelaskan bahwa group elektronik akan hadir
pada komunitas organik
berhubungan dengan struktur dan
peraturan mereka. Kesimpulanya secara keseluruhan ‘komunitas yang hilang dalam
masyarakat, sebagaian besar karena
budaya dan identitas yang diciptakan
adalah terlalu partial/memihak, heterogen dan
menciptakan sebuah kenaggotaan dan kepemilikan yang kuat’ (1998:
59).
Ia menjelaskan bahwa kualitas pada wacana
adalah ‘miskin’ dan dialog
asli menghilang. Yang terbaik, komunitas
virtual mungkin mendukung komunitas
tambahan, tetapi tidak dapat untuk menggantikan mereka, menurut pandangan van
Dijk.
Pernyataan di atas
mungkin dianggap sebagai hipotesis, tetapi itu terlalu jelas untuk menarik kesimpulan.
Studi empiris perlu untuk secara
substantif seperti klaim belum
dilakukan. Dalam tinjauan ulang oleh
satu dari beberapa orang untuk
melakukan sebuah penelitian lapangan ethnograpic yang diperluas pada
sebuah komunitas online, Baym mendukung kritisme ini: ‘kita tidak memiliki dasar empiris yang mana untuk menilai bagaimana komunitas online mempengaruhi komunitas offline (1998:38).
Baym (1995, 1998, 1999) disisi
lain untuk memberikan, pandangan yang
kaya ke dalam sebuah group berita
Usenets mempersembahkan untuk diskusi
pada opera sabun televisi, juga
mengelaborasikan pada sebuah model teoritikal
komunitas online. Ia menitik beratkan pada pemahaman bagaimana komunitas mengembangkan dan memanifestasikan
diri mereka, dan apa yang terjadi selama
proses online yang
memunculkan partisipan untuk
mengalami fenomena virtual ini sebagai komunitas. Baym mengembangkan apa yang ia sebuat dengan sebuah ‘emergent
model of online community’,
komunitas online model emergent
(1998: 38). Ia mengatakan bahwa lima
tampilan yang ada mempengaruhi karakter pada sebuah komunitas online: konteks
ekternal, struktur temporal,
infrastruktur system, tujuan-tujuan group dan karakteristika pada
para partisipan. Tampilan ini
berbenturan dengan perkembangan pada sebuah komunnias online yang
berhubungan dengan bentuk-bentuk khusus group pada ekspresi, identitas,
hubungan dan konvensi normatif’ (1998: 38).
STUDI ILUSTRATIF PADA MEDIA DAN KOMUNITAS BARU
Berbagai formulasi pada komunitas
yang dihadirkan dalam bagian sebelumnya telah menemukan refleksi
dalam berbagai studi empiris mengenai media. Disini, ilustrasi disediakan
untuk tiga area pada
penelitian: media elektronik skala
kecil, secara fisik didasarkan pada komunitas online, dan diskusi publik dan perdebatan di Internet. Walaupun
penelitian dari berbagai area dapat dipilih (seperti perkembangan
komunitas dan disain budaya dan bahasa, mengidentifikasi formasi dan secarakomersiap berorientasi
komunikasi virtual), studi yang
dihadirkan disini mengilustrasikan beberapa penelitian terkini yang dilakukan pada komunitas dan media baru.
Media
Elektronik Skala Kecil
Sebuah kompilasi terkini pada penelitian media komunitas (Jankowski,
2001) berisi sebuah bagian empat bab yang menjelaskan
pada isu-isu dan ilustrasi pada lingkaran pubik yang berhubungan dengan radio dan televisi komunitas. Disana,
Mitchell (2001) mengeksplorasi
bagaimana radio komunitas perempuan
mungkin memberikan sebuah alat untuk pemberdayaan para wanita. Dengan data
empiris dari stasiun
radio wanita dan
proyek di Eropa, mitchell menguji bagaimana radio
dapat digunakan untuk
mengembangkan sebuah lingkaran publik
feminist.
Colemann (2001) menyediakan sebuah
analisi pada telepon dalam program
radio di Irlandia dan
mempertimbangkan bagaimana tiga program ini mungkin berkontribusi pada
pertukaran yang lebih baik antara group terpisah dalam masyrakat. Ia mengatakan
bahwa bentuk ini pada wacana memberikan kesempatan untuk komunikasi yang mana
akan menjadi tidak seperti yang diharapkan atau sulit. Sebuah kontribusi oleh Stein (2001) menilai
peranan akses publik pada televisi dalam komunikasi politik di Amerika Serikat.
Ia menguji penggunaan politikal pada akses televisi pada proyek media radikal dan mengatakan bahwa media
memiliki sebuah tingkatan pembicaraan demokrasi dari industri media
tradisional.
Akhirnya, barlow (2001) menguji
kebijakan-kebijakan dan
praktik pada tiga
stasiun komunitas radio di
Australia yang berhubungan dengan hal penting pada sektor penyiaran itu. ketika semua stasiun
melihat untuk memberikan pengphormatan
pada prinsip-prinsip akses dan
partisipasi, ia menemukan bahwa tiga stasiun ini berbeda secara
substansial dalam praktik mereka. Dengan
demikian, semua stasiun adalah subjek
pada sifat yang disebabkan
oleh profesionalisme, popularitas dan
komersialisasi pada radio komunitas.
Secara
Fisik Didasarkan Pada Komunitas Virtual
Disana secara mendasar terdapat dua
kategori komunitas virtual: mereka
dengan sebuah hubungan berbeda pada sebuah lokalitas geografis dan mereka
yang tidak memiliki ikatan dengan sebuah
ruang khusus. Freenets,
PENs, jaringan infromasi komunitas dan
kota digital adalah bebrapa jenis secara fisik
berdasarkan pada komunitas virtual dalam kategori ini. Dua
studi terkini pada komunitas
virtual ini seperti ilsutrasi
pada penelitian yangdilakuan dalam area
ini
Internet
Dan Diskusi Publik
Tempat diskusi
publik dan perdebatan telah menjadi sebuah
hal penting pada
media komunitas dalalm beberapa dekade, dan
hal ini adalah sama
penting juga untuk fasilitas-fasilitas internet yang diberikan. Newsgroup, daftar-daftar dikusi,
dan khususnya situs-situs yang
dibuat untuk perdebatan sosial, politik
dan isu budaya yang ada dalam internet.
Penelitian secara empiris dimulai
untuk memunculkan fenomena ini, khususnya dari perspektif pada
konsep lingkaran publik (seperti
Dahlberg, 2001; Hegemann 2002; Schirato 2005).
Komunitas dan Penggunaan Media Baru
Baym (1999:
210-16) dalam kesimpulan pada studinya pada sebuah komunitas online pada fans
opera sabun televfisi, merumuskan sebuah daftar lengkap yanglebih banyak pada empat
pertanyaan:
·
Kekuatan apa yang
membentuk identitas online?
·
Apakah komunitas online
meningkat setiap waktu?
·
Bagaimana partisipasi online menghubungkan kehidupan offline?
·
Bagaimana komunitas online mempengaruhi
komunitas offline?
Ia
bagaimanapun tidak memperluas pertanyaan-pertanyaan ini
pada tingkat pada sebuah model yang dapat mengintegrasikan
penemuan-penemuan, yang mana arah
untuk studi empiris yang lebih jauh mungkin disediakan. Observasi dibuat
beberapa tahun lalu oleh Wellman
dan Gulia (1999: 185) adalah masih
relevan: ‘ini waktunya untuk mengganti anekdot dengan bukti…’Jawaban-jawaban
belum ditemukan. Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan mulai untuk disusun’. Saya hanya akan
menambahkan bahwa waktu dan data juga untuk meningkatkan secara teoritikal
berdasarkan model-model untuk memunculkan komunitas online dan
jaringan komunitas digital, seperti model yang
dihadirkan di atas (lihat juga pada Jankowski et al., 2001), bahwa itu
adalah relevan pada realisme lainnya pada media baru dan
komunitas. Pertanyaan-pertanyaan penelitian dimasukan pada model akan
memberikan arahan yang diperlukan dan
mendapatkan gelombang pada studi
kasus yang memfokuskan pada komunitas
dan media baru.
Menciptakan Komunitas
melalui Media:
Investivigasi/Penyelidikan
Sejarah, Teori dan Ilmu Pengetahuan
Bab
ini membahas tentang hubungan antara media dan komunitas baru.
Pertama,
adalah mengenai 3 periode sejarah perkembangan komunitas dan media. Gelombang Pertama
Pada Komunitas Dan Studi Media
• Park (1922) meneliti peranan pada
media komunitas yang berhubungan dengan
pembentukan identitas
diantara kelompok imigran. Disini Park mengamati minat baca surat kabar
di antara penduduk perkotaan dan pedesaan. Di kota para pembaca
memiliki lebih banyak kepentingan karena itu tak hanya sekedar
pemberitaan di daerah tempat tinggalnya saja yang dibaca namun berita dari luar
daerah juga dibaca, sedangkan para pembaca
pedesaan lebih suka pada berita lokal.
• Merton (1949) mengidentifikasi dua
group penduduk; yaitu lokalitas dan kosmopolitan. Lokalitas berorientasi pada komunitas lokal, terlibat secara lokal berdasarkan pada aktifitas sosial dan
utamanya pada surat kabar lokal sebagai sebuah sumber untuk berita lokal.
Kosmopolitan, hal yang berbeda, ia memiliki sebuah orientasi lebih luas dan tingkat aktifitas sosial, dan mengkonsumsi media dari luar
lokalitas.
• Janowitz (1952) menitik beratkan
pada peranan pada surat kabar dalam mengintegrasikan individu-individu ke dalam
sebuah komunitas.
• Stanm mengembangkan sebuah model dimana ikatan komunitas dapat dilihat
sebagai pendahulu atau konsekwensi pada
penggunaan media komunitas. Adanya surat kabar berperan serta untuk membentuk suatu ikatan komunitas,
dan pada
waktu lainnya hal yang berbeda terjadi pada ikatan komunitaslah yang
berperan serta pada penggunaan surat
kabar.
Gelombang
kedua Pada komunitas dan studi media
Sistem penyebaran televisi
kabel pada akhir tahun 1960an dan awal taun 1970an, sebuah
kepercayaan baru pada ketertarikan yang dikembangkan secara
geografis dijelaskan untuk menggunakan
teknologi komunikasi ini untuk
inisiatif dan aksi komunitas. Media dalam konteks ini adalah membuat
‘media komunitas’ dan istilah ini mengacu pada sebuah tingkat
berbeda pada bentuk-bentuk mediasi pada
komunikasi, contoh media yang dijadikan pada media komunitas adalah radio
dan televisi. ).
Gelombang
ke tiga
Sebuah group yang
terdiri dari para praktisioner
dan aktifis mahasiswa. Sejak pertemuaan
pertama tahun 2000, group telah berkembang dengan cepat dalam ukuran dan
cakupan, telah melakukan pertemuan tahuhan baik di Amerika Utara dan Selatan.
Website OurMedia menjelaskan sebuah sumber yang berharga dan luas untuk
beasiswa sekarang ini (lihat http//www.ourmedianet.org). . Sejak pertemuaan pertama tahun 2000, group telah
Berkembang dengan cepat dalam ukuran dan cakupan, telah melakukan pertemuan
tahuhan baik di Amerika Utara dan Selatan. Website OurMedia menjelaskan sebuah sumber
yang berharga dan luas untuk beasiswa sekarang ini (lihat
http//www.ourmedianet.org).
Perkembangan
internet menyebabkan lahirnya era cyber society atau komunitas virtual.
.Bagian
ke dua mengeksplorasi transformasi atau perubahan pada konsep komunitas dari
studi sosiologikal yang berorientasi lokalitas.
Ke
tiga memberikan ilustrasi pada tiga jenis studi
yang berhubungan dengan komunitas
dan media elektronik
skala kecil, jaringan-jaringan informasi komunitas, dan diskusi
publik dan perdebatan melalui jaringan elektronik
Keempat,
mengeksplorasi lebih jauh antara komunitas dan
media secara langsung.
Dampak Media Baru
Aspek
negatif dalam teknologi yang sebagai
alat potensial yang menakutkan untuk
propaganda politik; televisi dan film, bagaimanapun, diduga dapat untuk merusak masyarakat, merubah
pikiran anak muda dan menghancurkan warisa budaya. Penelitian / karya-karya
ilmiah menjadi diragukan validitasnya karena adanya perkembangan teknologi internet,
hal ini disebabkan ketidakjelasan atau tidak dicantumkannya sumber informasi /
referensi.
Aspek
positif . Pendidikan akan meningkatkan warga
menjadi lebih fokus dan aktif;
perdagangan, pada ekonomi yang baru akan terjadi, bahwa hilangnya nilai-nilai komunitas tradisional dapat diraih kembali melalaui komunikasi melalui Internet.
Media
baru yang muncul saat ini belum akan berkembang menjadi media di masa depan.
(Fauconnier, 1973; Hamelink, 1980)
Karakteristik Media Baru
Karakteristik
pada media baru dijelaskan oleh McQuail
(1994: 20-6) digunakan sebagai
sebuah pengambaran pada
istilah. Media baru, ia menjelaskan, secara umum melibatkan
desentralisasi pada channel untuk
penyebaran pesan; sebuah peningkatan
dalam ketersediaan kapasitas untuk
pemindahan pesan melalui satelit,
kabel dan jaringan komputer; sebuah peningkatan dalam opsi yang ada untuk anggota audiense untuk menjadi terlihat dalam proses
komunikasi, sering memerlukan sebuah bentuk interaktif komunikasi; dan sebuah peningkatan dalam tingkat fleksibilitas untuk
penentuan pesan. Negroponte (1995) mempertimbangkan aspek terakhir ini
yang merupakan tampilan
paling fundamemntal atau mendasar, dan digitalisasi hal yang penting untuknya bahwa kandungan
pada satu media dapat saling betukar dengan yang
lainnya.
Media
baru, seperti yang dianggap dalam bab ini terlihat
sebagai pengembangan dalam komuikasi pada beberapa konteks. Untuk alasan ini, disana terdapat nilai dalam menjelaskan hubungan
pada media baru untuk ruang dan
waktu mereka, dengan memperhatikan
komuitas.
Menurut
Feldman, New Media memiliki lima karakteristik, yaitu :
Pertama,
media baru mudah dimanipulasi. Hal ini sering kali mendapat
tanggapan negatif dan menjadi perdebatan, karena media baru memungkinkan setiap
orang untuk memanipulasi dan merubah berbagai data dan informasi dengan bebas.
Kedua,
media baru bersifat networkable. Artinya,
konten-konten yang terdapat dalam media baru dapat dengan mudah dishare dan
dipertukarkan antar pengguna lewat jaringan internet yang tersedia.
Karakteristik ini dapat kita sebut sebagai kelebihan, karena media baru membuat
setiap orang dapat terkoneksi dengan cepat dan memberi solusi terhadap kendala
jarak dan waktu antar pengguna.
Ketiga,
media baru bersifat compressible. Konten-konten yang ada
dalam media baru dapat diperkecil ukurannya sehingga kapasitasnya dapat
dikurangi. Hal ini memberi kemudahan untuk menyimpan konten-konten tersebut dan
men-sharenya kepada orang lain.
Keempat,
media baru sifatnya padat. Dimana kita hanya membutuhkan space
yang kecil untuk menyimpan berbagai konten yang ada dalam media baru.
Sebagai contoh, kita hanya memerlukan satu PC yang terkoneksi dengan jaringan
internet untuk dapat menyimpan berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia
dalam PC tersebut.
Kelima,
media baru bersifat imparsial. Konten-konten yang ada dalam media
baru tidak berpihak pada siapapun dan tidak dikuasai oleh segelintir orang
saja. Karena itulah media baru seringkali disebut sebagai media yang sangat
demokratis, karena kapitalisasi media tidak berlaku lagi. Setiap orang dapat
menjadi produsen dan konsumen secara bersamaan dan setiap pengguna dapat
berlaku aktif disana.
TAHAP
PERKEMBANGAN MENGENAI KAJIAN MEDIA DAN COMMUNITY
MEDIA
Menciptakan
Kumunitas dengan Media:
Saat ini internet
mungkin dimiliki oleh masyarakat secara umum dan komunitas pada
khususnya. Itu terlihat seolah-olah
tiap generasi telah diwakili
oleh orang yang terpelajar yang berperan serta pada media dan juga
berpengaruh pada manusia. Selama jaman keemasan pada
radio sebagai contoh, itu membawa
budaya ke dalam setiap ruang kehidupan;
selanjutnya, televisi yang kemudian mengubah pendidikan. Pada ke dua media
ini adalah sebagai alat potensial untuk propaganda
politik.
MEDIA BARU
Kebanyakan yang
baru berhubungan dengan perubahan dalam cara
individu untuk dapat berhubungan dengan media dan untuk menentukan tempat dan
fungsi media ini dalam kehidupan mereka tiap harinya. Media baru
adalah, pada sebuah tingkat yang lebih besar, secara sosial membentuk fenomena dan sering berselisih secara substansial dari perhatian orijinal
pembuatnya.
-
Karakteristik Media
Baru oleh McQuail
Media baru, ia
menjelaskan, secara umum melibatkan desentralisasi pada channel untuk penyebaran pesan; sebuah peningkatan dalam ketersediaan kapasitas untuk pemindahan pesan melalui satelit, kabel dan jaringan komputer; sebuah peningkatan dalam opsi yang ada untuk anggota audiense untuk menjadi terlihat dalam proses
komunikasi, sering memerlukan sebuah bentuk interaktif komunikasi; dan sebuah peningkatan dalam tingkat fleksibilitas untuk
penentuan pesan.
Perkembangan biasanya
berhubungan dengan media baru
yang banyak dan meliputi
teknologi seperti DVD dan CD-ROM; televisi kabel dan jaringan komputer; perkembangan berbagai komputer media
komunikasi (CMC) seperti e-mail/surat
elektronik, group baru dan
daftar diskusi, dan layanan chatting; layanan telepon seperti SMS
dan MMS; dan Internet yang
didsarkan pada layanan baru yang disediakan oleh surat kabat
tradisional dan broadcaster.
Perkembangan
bangsa Mesir pada kertas, preferensi
yang diberikan untuk mensketsa hubungan
khusus antara komunitas dan
media pada awal tahun 1900an ketika studi komunitas berkembang
sebagai sebuah usaha akademik
yang penting. Gelombang ke dua mengenai studi yang berhubungan dengan komunitas dan media
dapat dilacak pada akhir tahun 1960an dan 1970an ketika media komunitas
elektronik skala kecil muncul. Ke tiga dan periode terakir untuk digambarkan
adalah era Internet.
Gelombang
Pertama Pada Komunitas Dan Studi Media
Merton menjelaskan, dengan kata lain, bahwa
penggunaan media dan partisipasi komunitas adalah refleksi dari sifat individu.
Janowitz (1952) mengambil sebuah
pendekatan berbeda pada topik komunitas
dan media, dan menekankan peranan pada struktur komunitas berhubungan
dengan penggunaan surat kabar lokal.
Seperti Park, Janowitz menitik beratkan pada
peranan pada surat kabar dalam
mengintegrasikan individu-individu ke dalam sebuah komunitas. Ia
beranggapan surat kabar lokal dapat berperan serta untuk konsensus pada
sebuah komunitas lokal, dan ia meneliti peranan keluarga, soaial dan partisipasi
komunitas pada bacaan surat kabar komunitas dan keterlibatan komunitas berhubungan dengan perhatian yang lebih
besar pada surat kabar lokal.
Gelombang
ke dua: Media Komunitas Elektronik
Media dalam
konteks ini adalah membuat ‘media komunitas’ dan
istilah ini mengacu pada sebuah tingkat berbeda pada bentuk-bentuk
mediasi pada komunikasi; media elektronik seperti surat kabar dan majalah, dan selanjutnya
jaringan elektronik membuat menyatukan karakteristik baik pada
media cetak tradisional dan
elektronik. Hal yang mana televisi komunitas adalah dijelaskan merupakan inisiatif skala
kecil yang dibuat oleh orang lokal
sebagai pembeda dari siaran profesional (Lewis, 1976: 61). Para anggota
pada komunitas, sering beraliansi
dengan para staf stasiun profesional dimaksudkan untuk bertanggung jawab
untuk ide dan produksi yang dihasilkan program.
Para anggota komunitas adalah secara
umum dilibatkan dalam semua hal pada
aktifitas stasiun dan melatih mengkontrol
hari demihari dan kebijakan dalam waktu lama.
Media baru
seperti radio komunitas dan telvisi
adalah memfokuskan pada studi Eropa Barat (seperti pada Halloran, 1977;
Jankowski, 1988) dan Amerika Utara
(seperti pada Fuller, 1994; Widlok, 1992). Beberapa tinjauan sketsa
bagaimana group menggunakan pada
media elektronik skala kecil untuk
tujuan politik dan budaya (seperti pada Downing, 1984, 2000; Girard,
1992; Jallov, 1997). Studi Orang Eropa mengenai
‘suara orang-orang ini’ dilakukan
selama tahun 1970an dan 1980an, dikumpulkan dalam sebuah anthology
dokumentasi pengembangannya dan
dampaknya (Jankoski et al., 1992
Dengan memfokuskan pada media
komunitas dalam lokalitas
didapatkan tinjauan ulang ketertarikan
pada inisiasi pada OURMedia, sebuah group yang
terdiri dari para praktisioner
dan aktifis mahasiswa. Sejak pertemuaan
pertama tahun 2000, group telah berkembang dengan cepat dalam ukuran dan
cakupan, telah melakukan pertemuan tahuhan baik di Amerika Utara dan Selatan.
Website OurMedia menjelaskan sebuah sumber yang berharga dan luas untuk
beasiswa sekarang ini (lihat http//www.ourmedianet.org). Banyak penelitian
oleh anggota pada group ini telah diinspirasi oleh diskusi pada “citizen
media’, yang diusulkan oleh Rodriguez (2001) dan ‘alternative media’, bekerkja
sama dengan Atton (1999).
Gelombang Ke Tiga: Era Internet
secara serius memfokuskan pada
Internet dapat dilacak untuk publikasi
pada sebuah issu tema gabungan yang dipersiapkan oleh Journal of Communication dan
Journal of Computer-Mediated Communication (JCMC) pada tahun 1996. Indikasi yang lain pada
gelombang ke tiga yang signifikan dan penting ini adalah pembentukan mengenai
Asosiasi pada Para Peneliti Internet dan melakukan konferensi
internasional pertamanya pada Semptember 2000 (lihat Jones, 2004).
Kesimpulannya, banyak yang masih
terus mengalami perubahan, dan
pergerakan perubahan visi dan
refleksi. Itu terlihat adil untuk
mengatakan bahwa akademik memfokuskan
untuk komunitas, khususnya pada linkungan Internet. Apakah beberapa
robustness/ketahanan akan melanjutkan yang mungkin akan bergantung sangat besar
pada tingkat perbaikan konseptual yang dicapai selama tahun-tahun berikutnya. Seberapa jauh perbaikan tersebut berjalan dijelaskan
dalam bagian selanjutnya.
COMMUNITY
Perubahan Formulasi Pada Komunnitas
Komunitas sebagai sebuah konsep popular
telah membuktikan dengan kuat
pada serangan, bagaimanapun, dan itu telah mendapatkan sebuah kehidupan
baru dalam wacana akademik sejak diskusi
pada berbagai bentuk pada komunitas virtual muncul
dalam syberspace.
Teori sekarang ini dan reorientasi metodologikal dengan menekankan
ikatan sosial adalah dipertimbangkan selanjutnya. Akhirnya, diskusi dan
usaha-usaha untuk menjelaskan komunitas
dengan konteks pada Internet adalah berhubungan dengan berapa lama, dan formulasi baru pada komunitas pada lingkungan
ini dijelaskan.
Konseptualisasi sosiologikal awal pada komunitas
Diskusi mengenai komunitas pada
disiplin sosiologi sering dimulai dengan kontribusi pada Tonnies (1887/1957),
khusunya formulasinya mengenai Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft, biasanya diartikan sebagai
‘community’/komunitas, mengacu pada hubungan yang ‘intimate/rekat, memperkuat dan berdasarkan
pada sebuah pemahaman jelas pada
dimana tiap orang berdiri dalam masyarakat’ (Bell dan Newby, 1972: 24). Ditemukan
dalam masyarakat sebelum
masa industri, hubungan ini adalah dirasakan secara budaya homogen dan dengan kuat dipengaruhi
institusi-institusi seperti gereja dan keluarga. Dasar pada Gemeinschaft melibatkan
hal sentimental pada konvensi
dan lebih banyak pada sebuah
tradisi yang diturunkan dari generasi ke
generasi dari keluarga ke keluarga (Newby, 1980: 15).
Istilah ‘Tonnies Gesellschaft secara
umum diartikan sebagai ‘masyarakat’ atau
‘asosiasi’ dan mengacu pada ‘skala
besar’, bukan perseorangan, kalkulatif,
dan hubungan kotraktual’ (Newby,
1980: 15) diyakini untuk meningkat selama periode industrialisasi pada abad ke sembilan
belas. Aksi yang diambil dalam keuntungan potensial merekea untuk individual.
Hubungan-hubungan adalah kontraktual dan
secara fungsional spesifik.
Karena pada orientasi individual,
Gesellschaft adalah dibentuk oleh
sebuah kadaan yang berkelanjutan.
Ikatan Sosial Sebagai Indikator Komunitas .
Analisis jaringan sosial telah menjadi penyebab kolektif
dalam penelitian Wellman dan
koleganya (Garton et al, 1999; Wellman, 1997, 1999; Wellman dan Berkowitz,
1988, 1997), dan kebanyakan sekarang ini dalam penelitian mereka pada
kegunaan jaringan
elektronik pada area
tempat tinggal (seperti pada Hampton
dan Wellman, 2000; Wellman dan
Hampton, 1999). Dalam sebuah diskusi pada apa yang ia sebut dengan ‘community
question’/pertanyaan komunitas Wellman
(1999) menjelaskan tampilan dan nilai pada analisis jaringan sosial. Pendekatan jaringan, ia menyatakan,
menghindari individual-tingkat
pendekatan perspektif, memfokuskan pada hubungan antara nodes dan unit pada sebuah
jaringan. Pendekatan ini memberikan
sebuah kesempatan untuk mempertimbangkan tampilan sebagai density/ketebalan dan ‘tightness’/keeratan pada hubungan,
tingkat pada heterogenity diantara unit
pada sebuah jaringan, dan dampak yang mana
hubungan dan posisi pada sebuah
jaringan mungkin ada pada individu atau aksi kolektif.
Komunitas Virtual
Memberikan sebuah pandangn personal tentang
seperti apa itu kehidupan dalam dunia cyberspace. Dengan
mengambil
pengalaman-pengalaman personal
dalam komunitas virtual pertama
Serangkaian kontribusi teori
mengenai komunitas dalam volume Jones telah dipersiapkan oleh Fernback (1997, 1999; lihat juga Fernback
dan Thompson, 1995a, 1995b). Fernback menjelasksan kontribusi dari sosiolog
sebelumnya Tonnies dan Simmel, tetapi
ia juga meninjau kemebali kontribusi dari Dewey dan lebih banyak literatur sekarang dari ‘new communitarian” Etzoni (1993) dan Bellah
et al. (1985). Tidak seperti beberapa deskripsi sebelumnya mengenai komunitas, ia menekanakan dinamika
pada kosnep: ‘ sebagai masyarakat
yang menyusun pendapat mengenai komunitas
disusun secara bersamaan’
(Fernback, 1997). Sebuah sifat sekarang mengenai konsep diketahui sebagai komunitas virtual
yang mana ia menjelaskan sebagai ‘hubungan sosial yang terjadi dalam
cyberspace melalui kontak yang diulang pada sebuah
batasan dan tempat khusus
(seperti pada sebuah konferensi atau
chatting line) yangmana secara simbol yang digambarkan dengan topik
kepentingan’ (Fernback dan
Thompson, 1995b).
Hal yang menjadi permasalahan dan
perhatian dalam tampilan komunitas
virutal, menurut Fernback dan Thompson
(1995b), adalah ketidakstabilan para individual
yang dimiliki dalam komunitas. Para individu dapat mennjadi aktif dan menonjol dengan cepat, dan ketika itu pula dengan cepat menghilang
bersama: ‘meninggalkan sebuah komunitas virtual mungkin menjadi mudah
seperti mengubah channel pada sebuah
televisi’. Beberapa ketidak stabilan mungkin memiliki konsekwensi, mereka menjelaskan,
untuk stabilitas pada komunitas
virtual untuk sebuah tingkat yang lebih
besar lagi dibandingkan dalam kasus dalam ‘kehidupan nyata’ atau komunitas offline. Untuk alasan ini
mereka pesimistik mengenai potentialitas pada komunitas online
untuk berperan serta pada gambaran yang
terbentuk pada lingkaran publik’.
Perbedaan komunitas virtual dengan komunitas organik
Van
Dijk (1998) mengambil sebuah pendekatan berbeda pada topik komunitas virtual
dari Jones dan Fernback. Ia menyusun,
pertama, tugas penentuan apakah
kontruksi sosial dapat menggantikan untuk kerugian
sosial pada hak istimewa komunitas dalam masyarakat. Ia kemudian menyediakan
sebuah definisi pada komunitas
virtual sama dengan formulasi yang lainnya, bahwa mereka adalah
komunitas yang tidak terikat pada sebuah
tempat khusus atau waktu, tetapi masih
memberikan ketertarikan dalam sosial, budaya dan
realitas mental dari ketertarikan umum sampai khusus atau
aktifitas’ (1998:40). Pada dasar pada sebuah tinjauan ulang pada beberapa literatur yang tersedia pada komunitas, van Dijk
memurnikan empat karakteristik yang ia katakan adalah sama untuk semua komunitas, memiliki
anggota, merupakan sebuah organisasi
sosial, bahasa dan pola-pola interaksi, dan sebuah budaya dan
identitas umum. Karakteristik ini
kemudian digunakan untuk
membandingkan komunitas virtual dengan
kehidupan nyata atau apa yang ia lebih
sukai disebut dengan komunitas ‘organic’. Latihan ini memunculkan sebuah typology jenis ideal dimana
komunitas virtual digambarkan
secara relatif sebagai hubungan yang tidak tepat, yang mana tidak memperhatikan
dengan pertimbangan pada waktu dan
ruang, yang mana berisi sebuah bahasa
yang dikembangkan, dan pluralistik dan heteregenous dalam
komposisi (lihat Tabel 2.1). Seperti kasus dengan usaha
untuk membuat jenis ideal, profil komunitas virtual ini gagal secara
tepat menggambarkan kasus. Banyak komunitas virtual dapat dibentuk dengan ikatan kuat diantara para anggota mereka,
didasarkan pada waktu dan ruang, dan merefleksikan sebuah keanggotaan yang
homogenous/homogen.
Tabel
2.1 Jennis Ideal
komunnitas organik dan virtual
|
Karakteristik
|
Organik
|
Virtual
|
|
Komposisi
dan aktifitas
Organisasi
sosial
Bahasa
daninteraksi
Budaya
dan identitas
|
Group
kuat (usia)
Beberapa
aktifitas
Mengikat
tempat dan waktu
Verbal
dan non verbal
Total
tunggal
Homogen
|
Afiliasi
tidak cocok
Aktifitas
khusus
Tidak
mengikat tempat dan waktu
Verbal dan banyak bahasa
Partial
plural
Heterogen
|
Sumber: Van
Dijk, 1998: 45
Dengan tipologi ini, van Dijk
merumuskan pertanyaan penting pada studi ini: untuk perluasan apa komunitas virtual dapat menggantikan komunitas organik dan
memberikan kekuatan untuk
proses sosial sekaarang ini pada fragmentasi dan individualisasi?’ (1998: 48). Tinnjauan
ulang kesimpulan didasarkan pada awal
penelitian CMC, ia menjelaskan bahwa group elektronik akan hadir
pada komunitas organik
berhubungan dengan struktur dan
peraturan mereka. Kesimpulanya secara keseluruhan ‘komunitas yang hilang dalam
masyarakat, sebagaian besar karena
budaya dan identitas yang diciptakan
adalah terlalu partial/memihak, heterogen dan
menciptakan sebuah kenaggotaan dan kepemilikan yang kuat’ (1998:
59).
Ia menjelaskan bahwa kualitas pada wacana
adalah ‘miskin’ dan dialog
asli menghilang. Yang terbaik, komunitas
virtual mungkin mendukung komunitas
tambahan, tetapi tidak dapat untuk menggantikan mereka, menurut pandangan van
Dijk.
Pernyataan di atas
mungkin dianggap sebagai hipotesis, tetapi itu terlalu jelas untuk menarik kesimpulan.
Studi empiris perlu untuk secara
substantif seperti klaim belum
dilakukan. Dalam tinjauan ulang oleh
satu dari beberapa orang untuk
melakukan sebuah penelitian lapangan ethnograpic yang diperluas pada
sebuah komunitas online, Baym mendukung kritisme ini: ‘kita tidak memiliki dasar empiris yang mana untuk menilai bagaimana komunitas online mempengaruhi komunitas offline (1998:38).
Baym (1995, 1998, 1999) disisi
lain untuk memberikan, pandangan yang
kaya ke dalam sebuah group berita
Usenets mempersembahkan untuk diskusi
pada opera sabun televisi, juga
mengelaborasikan pada sebuah model teoritikal
komunitas online. Ia menitik beratkan pada pemahaman bagaimana komunitas mengembangkan dan memanifestasikan
diri mereka, dan apa yang terjadi selama
proses online yang
memunculkan partisipan untuk
mengalami fenomena virtual ini sebagai komunitas. Baym mengembangkan apa yang ia sebuat dengan sebuah ‘emergent
model of online community’,
komunitas online model emergent
(1998: 38). Ia mengatakan bahwa lima
tampilan yang ada mempengaruhi karakter pada sebuah komunitas online: konteks
ekternal, struktur temporal,
infrastruktur system, tujuan-tujuan group dan karakteristika pada
para partisipan. Tampilan ini
berbenturan dengan perkembangan pada sebuah komunnias online yang
berhubungan dengan bentuk-bentuk khusus group pada ekspresi, identitas,
hubungan dan konvensi normatif’ (1998: 38).
STUDI ILUSTRATIF PADA MEDIA DAN KOMUNITAS BARU
Berbagai formulasi pada komunitas
yang dihadirkan dalam bagian sebelumnya telah menemukan refleksi
dalam berbagai studi empiris mengenai media. Disini, ilustrasi disediakan
untuk tiga area pada
penelitian: media elektronik skala
kecil, secara fisik didasarkan pada komunitas online, dan diskusi publik dan perdebatan di Internet. Walaupun
penelitian dari berbagai area dapat dipilih (seperti perkembangan
komunitas dan disain budaya dan bahasa, mengidentifikasi formasi dan secarakomersiap berorientasi
komunikasi virtual), studi yang
dihadirkan disini mengilustrasikan beberapa penelitian terkini yang dilakukan pada komunitas dan media baru.
Media
Elektronik Skala Kecil
Sebuah kompilasi terkini pada penelitian media komunitas (Jankowski,
2001) berisi sebuah bagian empat bab yang menjelaskan
pada isu-isu dan ilustrasi pada lingkaran pubik yang berhubungan dengan radio dan televisi komunitas. Disana,
Mitchell (2001) mengeksplorasi
bagaimana radio komunitas perempuan
mungkin memberikan sebuah alat untuk pemberdayaan para wanita. Dengan data
empiris dari stasiun
radio wanita dan
proyek di Eropa, mitchell menguji bagaimana radio
dapat digunakan untuk
mengembangkan sebuah lingkaran publik
feminist.
Colemann (2001) menyediakan sebuah
analisi pada telepon dalam program
radio di Irlandia dan
mempertimbangkan bagaimana tiga program ini mungkin berkontribusi pada
pertukaran yang lebih baik antara group terpisah dalam masyrakat. Ia mengatakan
bahwa bentuk ini pada wacana memberikan kesempatan untuk komunikasi yang mana
akan menjadi tidak seperti yang diharapkan atau sulit. Sebuah kontribusi oleh Stein (2001) menilai
peranan akses publik pada televisi dalam komunikasi politik di Amerika Serikat.
Ia menguji penggunaan politikal pada akses televisi pada proyek media radikal dan mengatakan bahwa media
memiliki sebuah tingkatan pembicaraan demokrasi dari industri media
tradisional.
Akhirnya, barlow (2001) menguji
kebijakan-kebijakan dan
praktik pada tiga
stasiun komunitas radio di
Australia yang berhubungan dengan hal penting pada sektor penyiaran itu. ketika semua stasiun
melihat untuk memberikan pengphormatan
pada prinsip-prinsip akses dan
partisipasi, ia menemukan bahwa tiga stasiun ini berbeda secara
substansial dalam praktik mereka. Dengan
demikian, semua stasiun adalah subjek
pada sifat yang disebabkan
oleh profesionalisme, popularitas dan
komersialisasi pada radio komunitas.
Secara
Fisik Didasarkan Pada Komunitas Virtual
Disana secara mendasar terdapat dua
kategori komunitas virtual: mereka
dengan sebuah hubungan berbeda pada sebuah lokalitas geografis dan mereka
yang tidak memiliki ikatan dengan sebuah
ruang khusus. Freenets,
PENs, jaringan infromasi komunitas dan
kota digital adalah bebrapa jenis secara fisik
berdasarkan pada komunitas virtual dalam kategori ini. Dua
studi terkini pada komunitas
virtual ini seperti ilsutrasi
pada penelitian yangdilakuan dalam area
ini
Internet
Dan Diskusi Publik
Tempat diskusi
publik dan perdebatan telah menjadi sebuah
hal penting pada
media komunitas dalalm beberapa dekade, dan
hal ini adalah sama
penting juga untuk fasilitas-fasilitas internet yang diberikan. Newsgroup, daftar-daftar dikusi,
dan khususnya situs-situs yang
dibuat untuk perdebatan sosial, politik
dan isu budaya yang ada dalam internet.
Penelitian secara empiris dimulai
untuk memunculkan fenomena ini, khususnya dari perspektif pada
konsep lingkaran publik (seperti
Dahlberg, 2001; Hegemann 2002; Schirato 2005).
Komunitas dan Penggunaan Media Baru
Baym (1999:
210-16) dalam kesimpulan pada studinya pada sebuah komunitas online pada fans
opera sabun televfisi, merumuskan sebuah daftar lengkap yanglebih banyak pada empat
pertanyaan:
·
Kekuatan apa yang
membentuk identitas online?
·
Apakah komunitas online
meningkat setiap waktu?
·
Bagaimana partisipasi online menghubungkan kehidupan offline?
·
Bagaimana komunitas online mempengaruhi
komunitas offline?
Ia
bagaimanapun tidak memperluas pertanyaan-pertanyaan ini
pada tingkat pada sebuah model yang dapat mengintegrasikan
penemuan-penemuan, yang mana arah
untuk studi empiris yang lebih jauh mungkin disediakan. Observasi dibuat
beberapa tahun lalu oleh Wellman
dan Gulia (1999: 185) adalah masih
relevan: ‘ini waktunya untuk mengganti anekdot dengan bukti…’Jawaban-jawaban
belum ditemukan. Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan mulai untuk disusun’. Saya hanya akan
menambahkan bahwa waktu dan data juga untuk meningkatkan secara teoritikal
berdasarkan model-model untuk memunculkan komunitas online dan
jaringan komunitas digital, seperti model yang
dihadirkan di atas (lihat juga pada Jankowski et al., 2001), bahwa itu
adalah relevan pada realisme lainnya pada media baru dan
komunitas. Pertanyaan-pertanyaan penelitian dimasukan pada model akan
memberikan arahan yang diperlukan dan
mendapatkan gelombang pada studi
kasus yang memfokuskan pada komunitas
dan media baru.
Langganan:
Postingan (Atom)